Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. Lalu ia mengolesi dadaku dengan cream. Bokep indo Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Sial. Aku tertipu. Inilah kesempatan itu. Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Sial. Aku tidak dapat lagi memandanginya.Kantorku sudah terlewat. Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu,” kata Wien.Setelah beberapa lama menyodoknya, “Terus dong Yang. Lihat saja ia sudah separuh berlutut mengarah pada Junior. Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Jangan dimasukkan dulu Sayang, aku belum siap. Aku terlambat setengah jam. Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..!”Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Shit! Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi. Bicara apa? Ia memulai pijitan. Ia tersenyum. Ya tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga. Ada sekat-sekat, tidak tertutup sepenuhnya. Sengaja kuperlihatkan agar ia dapat melihatnya. Kring..! Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi.















