Aku masih mematung. Bokep jepang Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.“Ya sekarang Sayang..!” katanya. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Ayo cepat ia hampir selesai membersihkan belakang paha. Ia tersenyum ramah. “Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.“Telentang..!” katanya.Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Masih ada waktu bebas dua jam. Ia masih dingin tanpa ekspresi. Langkahku semangat lagi. Dari iramanya bukan sedang berjalan. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun. Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Kami seperti tidak ingin membuang waktu, melepas pakaian masing-masing lalu memulai pergumulan.Wien menjilatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun. Inilah kesempatan itu. Nampak ada perubahan besar pada Wien. Ia tersenyum ramah. Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Ah.., selangkanganku disentuh lagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.Ia berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskan cream.















