Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Satu dua, satu dua. film bokep jepang Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Tidak terlalu ayu. Tidak pasang wajah perangnya.“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? Juniorku tegang seperti mainan anak-anak yang dituip melembung. Tetapi sejak tadi aku tidak melihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.“Bang, Bang kiri Bang..!”Semua penumpang menoleh ke arahku. Dadaku mulai berdegup lagi. Aku mengurungkan niatku. Bodoh amat. Hap. Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Untung ada tissue yang tercecer, sehingga ada alasan buat Wien.Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar gembira dari wanita yang menunggu telepon. Lho, salon kan tempat umum. Ia membuncah ketika aku melumat klitorisnya. Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi. Sial. Wajahku merah padam. Ke bawah lagi: Tidak. Tapi ia masih berjongkok di bawahku.“Yang ini atau yang itu..?” katanya menggoda, menunjuk Juniorku.Darahku mendesir. Jari tangan mulai dingin. Tunggu apa lagi. Bau tubuhnya tercium. Aku bisa dapatkan ia, wanita setengah baya yang meleleh keringatnya di angkot karena kepanasan. Tangannya halus. Aku tidak tahan. Mendadak jari tanganku dingin semua. Hitam. Ada dipan kecil panjangnya dua meter, lebarnya hanya muat tubuhku dan lebih sedikit.















