Seperti hari Senin pada umumnya bis kota terasa sulit. Bokep barat Aku hanya bisa memandangi, menarik nafas serta menelan ludah. Belum sempat aku buka mulut, ia sudah melanjutkan pembicaraan, “Kerja dimana Mas?” “Daerah Sudirman,” jawabku. Kami memesan teh botol dan nasi goreng. ya.. Dengan memejamkan mata, “Mas.. Dengan memejamkan mata, “Mas.. Setelah kami masing-masing melap “barang”, kumasukkan senjataku ke liang kenikmatannya. Dia menutup dada dengan kedua tangannya tapi membiarkan aku membuka semua kancing. Aku (sebut saja Aswin), umur hanpir 40 tahun, postur tubuh biasa saja, seperti rata-rata orang Indonesia, tinggi 168 cm, berat 58 kg, wajah lumayan (kata ibuku), kulit agak kuning, seorang suami dan bapak satu anak kelas satu Sekolah Dasar. Mamah juga Mas.. Berarti di hadapanku bukan perempuan nakal apalagi profesional. “Mmacet sekali ya?” katanya yang tentu ditujukan kepadaku. Aku sudah siap memulai acara penutupan ronde kedua. bles..” barangku masuk semua. Jangan ulangi lagi (dengan orang yang sama), sensasinya atau getarannya akan berkurang. Karena malu, akhirnya dia mendekapku erat-erat. “Mas.. Persis seperti ronde kedua tadi. Setelah bersih-bersih badan, istirahat sebentar, minum kopi, dan makan makanan ringan sambil ngobrol tentang keluarganya lebih jauh.















