Yang jelas Aku makin sayang kepada Hendrik. Kawan lelaki banyak, pacaran baru sekali, itu pun secara back street, diam-diam, karena orang tua tak memberi restu. Bokep indo Hendrik tahu situasinya, cepat-cepat dia memegang tanganku dan meminta maaf.“Sorry ya Sall …..” hanya itu yang keluar dari mulutnya. Kami meneliti tulisan tangan yang sebagian kabur itu, sehingga wajah kami begitu berdekatan. Sekilas Aku merasakan sesuatu yang keras di balik celana pendek Hendrik. Kutarik Jimmy ke kamar. Aku masih terpana, tak bereaksi. Hendrik tak pernah memaksakan kehendaknya. “Malu mas, dilihat orang,” protesku. Kami sedang asyik menikmati seks, sementara beberapa meter di dekat kami, berdiri seseorang menunggu, sambil sesekali mengulang mengetuk pintu, tak tahu apa yang sedang kami lakukan. Pak Sakir pagi ini memang di undang suamiku untuk melapor. Hendrik memang nakal. “Cuma punya satu kelebihan kamar.”
Sampai pada suatu saat Ayah terpaksa menyewakan kamar yang kosong itu, karena diminta oleh sahabat Ayah yang tinggal di Bandung untuk anaknya, Didin. Aku banyak dikenal di lingkungan sekolah, terutama cowoknya, karena Aku gampang bergaul.















