“Kamu…,” ucapku. Benar rupanya, kau tak bisa berdansa.”
Aku mendengus malu. Bokep indo Kulepas jasku dan meletakkannya di atas buffet, lalu aku berjalan menuju bar kecil di ruang dapur. “The hell,” desisku. Ia mendesah saat kutemukan puting buah dadanya. Lonjakan-lonjakan jantungku membuat mataku terpejam. Ia menoleh dan memandangku. Dingin. Kegelian bercampur kenikmatan membuatku terbang ke awang-awang imajinasiku. “Dingin kalau bisa.”
Saat aku kembali dengan dua gelas air dingin, kulihat ia sudah membuat dirinya nyaman di ujung sofa L. Seperempat jam kemudian setelahnya, kami sudah saling bercanda tentang setiap orang yang menghadiri resepsi tersebut. Lalu tiba-tiba ia tertawa kecil. Ia meraih tangan kananku, dan meletakkannya di permukaan bulu kemaluannya. Kali ini ia menarik salah satu tali bra-nya hingga terjatuh sampai ke lengan. Di depan mataku, saat ia membuka pahanya, kulihat sesuatu yang membuatku terpana sesaat. Bibirnya mengeluarkan suara erangan. Setidaknya cukup untuk menghabiskan sore sambil membaca novel.”
Ia bangkit berdiri dan melangkah menghampiri stereo-set di celah rak buku. “Ruang tamu yang nyaman,” ucapnya beberapa saat setelah kuletakkan gelasku ke atas meja.















